Panji Nandiasa
1 min readMar 18, 2022

--

Tiga tahun berproses

Di tempat saya memilih terlanjur tercebur, perihal kekerasan seksual (ks) telah menjadi bahasan hangat dan direspon sebagai kampanye publik kira-kira sejak tiga tahun lalu.

Tiga tahun tersebut, saya pun berproses. Ada masa ketika awal-awal secara natural sok gahar di medsos, subtweet, dan semacamnya setelah isu tersebut sedang ramai dibahas. Mungkin agak mirip dengan laki-laki lain yang sekarang biasa saya lihat di ruang publik ketika hangat isu ini menjadi bahasan.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya kemudian mengevaluasi diri tentang ke-sok-gaharan saya tersebut. Apa sih motivasi saya? Apakah saya benar memikirkan para korban? Sebagaimana saya dulu sempat agak tergelitik ketika ada yang bilang di medsos, saya kutip secara bebas “laki-laki harus keras dalam bicara soal kekerasan seksual” ya memang tidak salah, tapi lanjutan kalimat tersebut jadi agak aneh “…agar laki-laki tidak dikaitkan dengan kekerasan seksual”. Jadi lantangnya kita-kita ini sekadar karena ingin virtue signaling? Karena ingin menunjukan kamu itu berbeda esdebray esdebray?

Belum lagi evaluasi seputar hal lain karena sepanjang saya di sini pun telah banyak hal yang saya terima dan rasakan yang amat mungkin memengaruhi motif kemurnian saya bersuara.

Fast forward ke masa sekarang, di tengah hal-hal seputar KS sedang kembali ramai, di sisi lain hal-hal tersebut jadi seperti teredukasi menjadi bahan gosip atau malah virtue signalling orang-orang dalam hal ini laki-laki yang ingin correct. Membuat jengkel saja dan tidak jarang malah bikin triggering lihat orang-orang mencuri panggung heboh sendiri ini.

Semoga saya bisa lebih arif, dan juga tidak pernah jadi kaya gitu.

--

--

Panji Nandiasa

Tulisan-tulisan impulsif dan reaktif. Catatan menjadi, dan pengingat tidak ingin jadi apa. Dapat didukung pada halaman karyakarsa.com/pnnji