A Different Man After Every Semester

Panji Nandiasa
2 min readJun 19, 2022

Mulai kembali jadi dosen tiga tahun lalu. Setelah beberapa hal, saya bertanya pada seorang teman di ranah perfilman apabila ada lowongan di tempatnya mengajar. Waktu awal tersebut, ada sebuah nilai yang disampaikan teman saya tersebut mengenai hal yang ia percaya mengenai pendidikan. Mengenai siapa yang salah, siapa yang benar dan seperti apa itu totalitas dalam mengajar.

Singkat kata, hampir tiga tahun berlalu dari pembelajaran saya semester demi semester. Pra-pandemi, masa pandemi dan semoga saja di akhir pandemi sekarang sampai-sampai saya sempat mengeluarkan tulisan ini. Oh, metode yang saya tulis pada tulisan tersebut pun sudah tidak lagi saya pegang setelah berada di kampus yang lebih disiplin dalam waktu. Saya harus mempertimbangkan ada biaya profesional dan kita semua perlu waktu istirahat -saya waktu itu dosen lepas yang dibayar per jam kuliah.

Semester demi semester saya juga memahami akan ada pihak yang tidak menerima kita, dan that’s ok yang penting mengajar saja dengan baik dan jadi pengajar yang lebih baik. Pemahaman ini juga buat saya lebih tenang sebenarnya.

Major event baru-baru ini, mungkin ketika mendapati ada peserta didik yang mengirimkan email saat ujian bahwa soal yang diberikan tidak ada dalam materi. Padahal materi yang dimaksud ada di file yang lain, hanya tidak berada dalam file yang namanya sama dengan soal. Saya pun semakin belajar ada hal-hal yang di luar kuasa pengajar.

Entahlah, setelah menjalani sendiri saya makin memahami bagaimana dosen-dosen yang saya temui menjadi. Tiap semester muncul sintesis baru, dan saya pun berubah. Mungkin akan ada yang saya korbankan —misalnya rasa ingin disukai berubah pada keikhlasan menjadi tidak disukai, demi peserta didik yang lebih baik lagi setelah selama ini mereka belajar secara daring. Tentu ada hal-hal dan batasan-batasan rasa hormat antar manusia yang saya coba tetap saya jaga seperti apapun dinamika yang saya hadapi agar tidak semata menjadi p ngajar yang menabur benih dendam pada mahasiswanya. Semoga saja.

--

--

Panji Nandiasa

Tulisan-tulisan impulsif dan reaktif. Catatan menjadi, dan pengingat tidak ingin jadi apa. Dapat didukung pada halaman karyakarsa.com/pnnji