Panji Nandiasa
3 min readDec 31, 2021

--

10 Tontonan Film Panjang Favorit 2021

Tidak dalam urutan khusus dan tidak semua dijelasin ya. Untuk film-film pendek, mungkin akan saya jabarkan pada posting yang lain, yang jelas di infoscreening.co saya juga akan share dua film pilihan pribadi yang mana tidak ditulis di sini. Ada juga beberapa wishlist yang belum ditonton, namun ya sudahlah kita susun, terbitkan, lalu move on saja.

The Matrix: Resurrection (Lana Wachowski)

Sebuah film untuk menyambut zaman baru. Seperti kata penulis IndieWire David Ehrlich, rasa-rasanya tidak ada waktu yang pas selain saat ini untuk meluncurkan film ini -atau semua ini memang takdir. Saat manusia mulai familiar dengan ide multiverse dan juga yang katanya menyongsong metaverse ditambah juga soal apa itu sinema meta. Sebagai sebuah kelanjutan dari trilogi kompleks tentang peperangan mesin dan manusia, beberapa hal dari film ini menunjukan dirinya dengan baik dan bukan menjadi sesuatu yang sekadar ada.

Titane (Julia Ducournau)

Sebuah film yang saya kejar jelang akhir tahun 2021. Rasanya agak terkecoh dengan apa yang saya disorot di media sosial karena setelah menonton, saya pribadi melihat Titane sebagai film yang mempertanyakan tentang arti sebuah keluarga. Imaji keluarga nuklir satu rumah serta berbagai kekerasan dan teror yang ada di dalamnya, yang mana hal tersebut tidak secara eksplisit ditunjukan. Atribut identitas seperti gender, seksualitas, nama, bahkan asal keluarga yang cair dalam berbagai simbol-simbol, termasuk kehamilan dan ekspresi seksual.

Drive My Car (Ryusuke Hamaguchi)

Dibuat beberapa kali tercengang dengan ekspresi pembabakan, visual, serta ragam cara bertutur dari film ini saat menontonnya dalam JAFF 2021. Sayup-sayup gembel terdengar suara dari kepala saat menonton, bahwa setelahnya saya tidak tahu apakah ada hal lain yang sepadan untuk ditonton di bioskop lagi atau tidak. Yha, tentu lebay saja namanya juga gembel.

The Hand of God (Paolo Sorentino)

Bahwa “ternyata” ada yang lebih penting dari riuhnya kota Napoli yang kedatangan seorang superstar yang selama tujuh tahun mengubah kota ini yaitu seorang anak remaja yang harus kehilangan saat ia bertumbuh dan menentukan masa depannya. Yang menarik, secara langsung dan tidak langsung (melalui ucapan salah satu karakter), The Hand of God membicarakan hal yang rasa-rasanya masih terlalu sensitif untuk dibicarakan, soal bagaimana kehilangan tersebut menjadi sebuah awal.

--

--

Panji Nandiasa

Tulisan-tulisan impulsif dan reaktif. Catatan menjadi, dan pengingat tidak ingin jadi apa. Dapat didukung pada halaman karyakarsa.com/pnnji